Orlando, 2011. We are "Laskar Nusantara" (picture by: Afshan Javid,our friend from India)

Thursday, April 14, 2011

Pesawat Terbang

Pukul 15.10 waktu setempat. Saya masih berada di kelas bahasa Inggris pada jam ke 7. Disebelah saya si Daniel sedang sibuk dengan iphone nya. Sedangkan di belakang saya, Schaar,Iiro,Jack,Sean,dan AJ sedang mengobrol dan bercanda. Tepat di depan saya ada 4 bangku kosong di mana Kathleen,Kayla,Robert, dan Will sedang absen hari ini. Oiya, kelas ini menggunakan pola tempat duduk berbentuk huruf “U”. Dan saya berada di salah satu deret yang saling berhadapan. Di Kelas bahasa Inggris saya cukup kenal banyak teman Karena kelas ini hanya untuk seniors (kelas 12) dan semuanya seumuran. Untuk hari ini, Ms. Janet Dakin meminta murid-muridnya untuk membuat outline essay yang akan kita jadikan sebagai tugas kelas di hari kamis nanti. Boro-boro outline, sebiji ide pun tak kunjung kudapat. Kemudian tiba-tiba muncullah di benak dua patah kata, “Pesawat Terbang”. Bel pun tak kunjung berdering karena hari bel sedang rusak dan digantikan oleh dering telepon yang disediakan di setiap kelas. 15.15 “bel” tanda pelajaran berakhir pun berdering. Sejenak kulihat ke luar via jendela kelas sebelum kutatih gitar tuk dibawa pulang, cuaca cukup cerah di luar. Dalam hati pun berkata “tumben Portland cerah.biasanya juga basah hujan terus” dan itupun dalam bahasa Inggris.hehe.

            Kuputuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Saya pun berbelok ke halte yang bukan di seberang jalan di mana tempat biasanya saya menunggu bus untuk pulang ke rumah. Berhentilah saya di halte bus yang menuju arah downtown Portland. Sambil membawa gitar dan sedikit mengecek jam di hape Samsung warna biru saya. Tidak lama bus menuju downtown Portland pun telah dating. Sebelum beranjak naik bus, sekali lagi, “Pesawat Terbang” muncul di pikiran saya.

            Hari cerah begini memang pas buat jalan-jalan. Downtown Portland pilihan saya. Kebetulan saya hendak mendaftar ke Cami Curtis Performing Arts buat kelas hip hop sekalian juga ngeliat stadion baru Portland Timbers, tim sepak bola warga Portland yang tahun ini masuk MLS (liga utama Amerika Serikat).
            Dalam perjalanan,di dalam bus, saya mengingat-ingat masa kecil saya. Dulu waktu kecil, setiap ada pesawat terbang melintas di udara dan terdengar suaranya dari kejauhan, saya selalu langsung keluar rumah dan menatap ke langit untuk melihat pesawat terbang. Biasanya juga saya berteriak “hoy kapal terbang, njaluk duwite!!” (hoy, pesawat t erbang, minta duitnya!!). Dulu waktu kecil saya beranggapan pesawat terbang bakal jatohin duit dari udara buat rakyat-rakyat jelata di daratan. Dan dulu saya beranggapan kalau semua yang naik pesawat terbang itu orang-orang kaya. Dan kemudian saat itu juga saya dan kebanyakan anak-anak seumuran saya waktu kecil bercita-cita buat jadi pilot. Atau juga bercita-cita jadi dokter yang nantinya naik helikopter.
            Sejak kecil saya ingin sekali naik pesawat terbang. Ketika kedua orang tua saya berangkat haji di tahun 2004 lalu, saya merasa senang sekaligus iri karena ayah dan ibu bakalan naik pesawat terbang. Selain kemahalan, keluarga saya nggak bakal naik pesawat terbang rame-rame karena memang kita tidak pernah pergi jauh seperti ke luar negeri.
            Kemudian di umur 17 adalah umur ketika saya merasakan naik pesawat. Bersama teman-teman AFS Chapter Surabaya saya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri orientasi Nasional keberangkatan para siswa pertukaran pelajar se Indonesia. Saya duduk di pinggir jendela bersama Hersanti Rahayu di sebelah saya. Mulai dari take off hingga landing saya bolak-balik menengok ke jendela pesawat melihat daratan,gedung-gedung,rumah,pohon-pohon,dan sungai yang terlihat seperti miniatur belaka. Saya ingat waktu itu Lion Air pesawatnya. Akhirnya keinginan dari kecil pun tercapai juga. Dan tentunya untuk pergi ke Amerika saya bakalan naik pesawat. Jadi 10 hari kemudian saya naik pesawat lagi untuk ke Amerika Serikat. Kali ini pesawatnya jauh lebih gede. Lama perjalanan dari Indonesia ke Amerika menempuh sekitar 27 jam waktu itu termasuk transit di Jerman selama 6-7 jam. Dan saat itulah saya mengenal istilah jet lag. Di amerika pun ternyata saya dapat kesempatan naik pesawat lagi.hehe. Waktu itu bulan februari 2011 saya naik pesawat dari Portland ke Orlando yang jaraknya seperti dari sabang ke merauke, 6 jam perjalanan berangkat  6 jam perjalanan pulang. Oke sepertinya saya sudah puas cerita tentang pesawat sampai-sampai saya mbelenger√≠ sama yang namanya naik pesawat. Memang Allah selalu merencanakan sesuatu dibalik sesuatu.

            …..
saat menulisa artikel ini (tampak samping)

saat menulis artikel ini (tampak depan)

kaca mata baru $10 an.hehe
            8 menit kemudian bus yang saya tumpangi sudah memasuki downtown Portland. Teringat tadi saya melihat pria berkaca mata hitam keren duduk di halte membuat saya ingin punya kaca mata hitam supaya terlihat keren seperti pria tadi.hehe. Turunlah saya di halte downtown Portland dan langsung bertolak menuju Pioneer Place Mall. Dengan membawa gitar saya berjalan dari halte downtown ke mall yang tepat berada di jantung kota Portland itu. Dengan membawa gitar pula saya memasuki mall terlihat seperti pengamen jalanan downtown Portland saja.Bukan, saya cuma siswa Wilson High School yang mengambil kelas gitar.hehe. H&M adalah toko tujuan saya. Saya sudah mengincar kaca mata 10 dolaran sejak lama di sana.haha. setelah saya coba beberapa kaca mata akhir nya jatuh pada kaca mata pada gambar di atas.
            Setelah itu saya langsung menuju MAX station untuk menunggu MAX (sejenis kereta listrik) menuju arah tempat dance studio. Akhirnya saya mengambil 4 kelas hip hop dan siap untuk memulai pelajaran hip hop hari kamis. Doakan semoga lancar ya! Dan ditunggu ceritanya pastinya.: )

3 comments:

  1. Keren ka',.,.
    Bangga dech punya ka2k kls kyak ka' radiv :)
    hehehhhe :p

    ReplyDelete

Thursday, April 14, 2011

Pesawat Terbang

Pukul 15.10 waktu setempat. Saya masih berada di kelas bahasa Inggris pada jam ke 7. Disebelah saya si Daniel sedang sibuk dengan iphone nya. Sedangkan di belakang saya, Schaar,Iiro,Jack,Sean,dan AJ sedang mengobrol dan bercanda. Tepat di depan saya ada 4 bangku kosong di mana Kathleen,Kayla,Robert, dan Will sedang absen hari ini. Oiya, kelas ini menggunakan pola tempat duduk berbentuk huruf “U”. Dan saya berada di salah satu deret yang saling berhadapan. Di Kelas bahasa Inggris saya cukup kenal banyak teman Karena kelas ini hanya untuk seniors (kelas 12) dan semuanya seumuran. Untuk hari ini, Ms. Janet Dakin meminta murid-muridnya untuk membuat outline essay yang akan kita jadikan sebagai tugas kelas di hari kamis nanti. Boro-boro outline, sebiji ide pun tak kunjung kudapat. Kemudian tiba-tiba muncullah di benak dua patah kata, “Pesawat Terbang”. Bel pun tak kunjung berdering karena hari bel sedang rusak dan digantikan oleh dering telepon yang disediakan di setiap kelas. 15.15 “bel” tanda pelajaran berakhir pun berdering. Sejenak kulihat ke luar via jendela kelas sebelum kutatih gitar tuk dibawa pulang, cuaca cukup cerah di luar. Dalam hati pun berkata “tumben Portland cerah.biasanya juga basah hujan terus” dan itupun dalam bahasa Inggris.hehe.

            Kuputuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Saya pun berbelok ke halte yang bukan di seberang jalan di mana tempat biasanya saya menunggu bus untuk pulang ke rumah. Berhentilah saya di halte bus yang menuju arah downtown Portland. Sambil membawa gitar dan sedikit mengecek jam di hape Samsung warna biru saya. Tidak lama bus menuju downtown Portland pun telah dating. Sebelum beranjak naik bus, sekali lagi, “Pesawat Terbang” muncul di pikiran saya.

            Hari cerah begini memang pas buat jalan-jalan. Downtown Portland pilihan saya. Kebetulan saya hendak mendaftar ke Cami Curtis Performing Arts buat kelas hip hop sekalian juga ngeliat stadion baru Portland Timbers, tim sepak bola warga Portland yang tahun ini masuk MLS (liga utama Amerika Serikat).
            Dalam perjalanan,di dalam bus, saya mengingat-ingat masa kecil saya. Dulu waktu kecil, setiap ada pesawat terbang melintas di udara dan terdengar suaranya dari kejauhan, saya selalu langsung keluar rumah dan menatap ke langit untuk melihat pesawat terbang. Biasanya juga saya berteriak “hoy kapal terbang, njaluk duwite!!” (hoy, pesawat t erbang, minta duitnya!!). Dulu waktu kecil saya beranggapan pesawat terbang bakal jatohin duit dari udara buat rakyat-rakyat jelata di daratan. Dan dulu saya beranggapan kalau semua yang naik pesawat terbang itu orang-orang kaya. Dan kemudian saat itu juga saya dan kebanyakan anak-anak seumuran saya waktu kecil bercita-cita buat jadi pilot. Atau juga bercita-cita jadi dokter yang nantinya naik helikopter.
            Sejak kecil saya ingin sekali naik pesawat terbang. Ketika kedua orang tua saya berangkat haji di tahun 2004 lalu, saya merasa senang sekaligus iri karena ayah dan ibu bakalan naik pesawat terbang. Selain kemahalan, keluarga saya nggak bakal naik pesawat terbang rame-rame karena memang kita tidak pernah pergi jauh seperti ke luar negeri.
            Kemudian di umur 17 adalah umur ketika saya merasakan naik pesawat. Bersama teman-teman AFS Chapter Surabaya saya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri orientasi Nasional keberangkatan para siswa pertukaran pelajar se Indonesia. Saya duduk di pinggir jendela bersama Hersanti Rahayu di sebelah saya. Mulai dari take off hingga landing saya bolak-balik menengok ke jendela pesawat melihat daratan,gedung-gedung,rumah,pohon-pohon,dan sungai yang terlihat seperti miniatur belaka. Saya ingat waktu itu Lion Air pesawatnya. Akhirnya keinginan dari kecil pun tercapai juga. Dan tentunya untuk pergi ke Amerika saya bakalan naik pesawat. Jadi 10 hari kemudian saya naik pesawat lagi untuk ke Amerika Serikat. Kali ini pesawatnya jauh lebih gede. Lama perjalanan dari Indonesia ke Amerika menempuh sekitar 27 jam waktu itu termasuk transit di Jerman selama 6-7 jam. Dan saat itulah saya mengenal istilah jet lag. Di amerika pun ternyata saya dapat kesempatan naik pesawat lagi.hehe. Waktu itu bulan februari 2011 saya naik pesawat dari Portland ke Orlando yang jaraknya seperti dari sabang ke merauke, 6 jam perjalanan berangkat  6 jam perjalanan pulang. Oke sepertinya saya sudah puas cerita tentang pesawat sampai-sampai saya mbelenger√≠ sama yang namanya naik pesawat. Memang Allah selalu merencanakan sesuatu dibalik sesuatu.

            …..
saat menulisa artikel ini (tampak samping)

saat menulis artikel ini (tampak depan)

kaca mata baru $10 an.hehe
            8 menit kemudian bus yang saya tumpangi sudah memasuki downtown Portland. Teringat tadi saya melihat pria berkaca mata hitam keren duduk di halte membuat saya ingin punya kaca mata hitam supaya terlihat keren seperti pria tadi.hehe. Turunlah saya di halte downtown Portland dan langsung bertolak menuju Pioneer Place Mall. Dengan membawa gitar saya berjalan dari halte downtown ke mall yang tepat berada di jantung kota Portland itu. Dengan membawa gitar pula saya memasuki mall terlihat seperti pengamen jalanan downtown Portland saja.Bukan, saya cuma siswa Wilson High School yang mengambil kelas gitar.hehe. H&M adalah toko tujuan saya. Saya sudah mengincar kaca mata 10 dolaran sejak lama di sana.haha. setelah saya coba beberapa kaca mata akhir nya jatuh pada kaca mata pada gambar di atas.
            Setelah itu saya langsung menuju MAX station untuk menunggu MAX (sejenis kereta listrik) menuju arah tempat dance studio. Akhirnya saya mengambil 4 kelas hip hop dan siap untuk memulai pelajaran hip hop hari kamis. Doakan semoga lancar ya! Dan ditunggu ceritanya pastinya.: )

3 comments:

  1. Keren ka',.,.
    Bangga dech punya ka2k kls kyak ka' radiv :)
    hehehhhe :p

    ReplyDelete